Minggu, 29 Maret 2009

Kehidupan Suku Lundayeh Mei 2003

Dayak Lundayeh,

MASYARAKAT Nepal yang mendiami dataran tinggi Himalaya secara turun-temurun memiliki pekerjaan unik menjadi pengangkut barang bagi rombongan pendaki gunung yang lazim disebut "Sherpa". Kebiasaan menjadi portir ala Sherpa juga hidup di kalangan masyarakat Dayak Lundayeh, warga asli dataran tinggi Pulau Kalimantan di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, yang berbatasan dengan Malaysia Timur di Sabah dan Sarawak.

ORANG Dayak Lundayeh mendiami kawasan pegunungan Apo Duat yang berhawa dingin pada ketinggian 1.000-2.000 meter di atas permukaan laut. Daerah itu sangat terisolir dari "Indonesia" karena hanya bisa dijangkau dengan penerbangan perintis dan misi gereja yang berangkat dari Kota Tarakan atau Nunukan.

Ciri fisik Dayak Lundayeh pun sepintas seperti Sherpa Nepal dengan kulit kuning langsat, mata sedikit sipit, dan tinggi tubuh sekitar 1,6 meter sampai 1,75 meter.

Keterasingan hidup di wilayah perbatasan membuat suku ini tergantung pada kehidupan subsistem dengan pertanian padi gunung yang hanya bisa ditanam setahun sekali. Sistem ini menciptakan siklus pertanian organik di daerah yang tidak tercemar bahan kimia dengan masa panen setiap enam bulan sekali.

Selain itu ada mata dagangan berupa garam gunung dan ternak kerbau dari Krayan. Secara ekonomis, seluruh kelebihan produksi hanya bisa dijual ke Sabah dan Sarawak.

Surplus hasil panen padi menjadi motor penggerak perekonomian mereka. Setiap tahun berton-ton beras dari Krayan dijual ke "luar negeri" terutama di Bakalalan, Sarawak, dengan cara dipanggul di punggung mereka.

Kebiasaan ini akhirnya melahirkan budaya barter ataupun jual beli pelbagai jenis barang Malaysia-Krayan dengan memakai angkutan manusia sebagai sarana transportasi. Turut tumbuh jasa tenaga pengangkut barang dagangan lintas negara dari Long Bawan di Krayan ke Bakalalan di Sarawak atau Long Pasia di Sabah.

"Kami bisa mengangkut sampai 50 kilogram yang digantung dalam keranjang rotan di punggung. Jarak Bakalalan-Long Bawan ditempuh sekitar delapan jam berjalan kaki," kata Sadrach Acang, warga Desa Pa Raye, 20 kilometer dari Long Bawan.

Jarak Bakalalan-Long Bawan yang cuma sekitar 35 kilometer ditempuh dengan tertatih-tatih sambil menahan beban berat di pundak mereka. Jalan berbukit terjal yang tersedia adalah lintasan tanah liat yang berdebu di waktu kemarau dan berlumpur di musim hujan.

Lalu lintas barang hanya mengandalkan kekuatan punggung dan kaki di daerah ini. Keranjang rotan dan alas kaki seadanya menjadi teman setia di samping jaket serta caping tradisional yang menjadi kelengkapan kerja mereka.

Saat berangkat, beras dibawa dari Krayan ke Malaysia. Sewaktu pulang, pelbagai komoditas seperti sabun, susu kaleng, minyak goreng, gula, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari menjadi kargo yang diangkut Dayak Lundayeh.

Kiat memikul beban juga dipakai untuk mengangkut sekarung semen 50 kilogram yang dibeli di Bakalalan!

TRADISI menjadi "Sherpa" ini tidak didominasi kaum lelaki Lundayeh saja. Perempuan pun "menjalani ritual" mengangkut barang antarnegara. Tua-muda, besar-kecil dengan tabah meniti jalan tanah yang sejak berabad-abad dilalui nenek moyang mereka.

Desy Paris, gadis manis asal Desa Pa Raye yang berusia 20-an tahun, mengaku, mengangkut barang untuk mendapat upah bukanlah hal baru bagi teman-temannya. Terakhir kali, awal bulan April lalu, Desy mendapat upah Rp 50.000 untuk memanggul beban 25 kilogram dari Long Umung ke Pa Raye yang berjarak 5,5 kilometer.

Satu kilogram Rp 2.000. Itulah harga pasaran tarif angkutan di Krayan. Tak peduli berapa jauh jarak yang ditempuh si pengangkut, seperti perjalanan Bakalalan-Long Bawan, menggunakan tarif yang sama.

Nyonya Sapti Petrus (29), asal Desa Terang Baru, Krayan, mengaku telah bertahun-tahun menjalani pekerjaan memanggul barang antarnegara. Perjalanan Terang Baru-Long Bawan-Bakalalan biasa ditempuhnya selama dua hari.

"Kami membawa barang dagangan dan bekal untuk dimakan di perjalanan. Dari Terang Baru, kami berangkat pagi hari sekitar 7-8 jam tiba di Long Bawan untuk transit beristirahat semalam. Esoknya perjalanan dilanjutkan ke Bakalalan," kata Sapti.

Setiba di Bakalalan, beras puluhan kilogram yang dibawa, dibarter atau dijual kepada pedagang Malaysia. Untuk segantang atau sekitar 2,5 kilogram beras, dihargai tujuh ringgit Malaysia (sekitar Rp 15.200).

Dengan perhitungan tersebut, satu kilogram beras cuma dihargai Rp 6.000. Padahal, untuk mengangkutnya diperlukan waktu delapan jam jalan kaki yang melelahkan.

Menurut Sapti, harga barang yang dijual selalu berfluktuasi, tergantung mood pihak pedagang di Malaysia. Warga Krayan pun tidak berdaya menghadapi mekanisme satu arah ini karena secara ekonomis tidak mungkin menjual hasil bumi Krayan ke wilayah Indonesia.

Jika nasib baik, warga Krayan yang pulang dari Bakalalan mendapat order mengangkut barang ke Long Bawan. Untuk kerja berat itu, mereka bekerja sesuai tarif Rp 2.000 per kilogram barang.

Tidak ada pilihan lain. Alhasil, warga Krayan pun dengan setia "menjalani ritual" mengangkut barang yang menyiksa punggung mereka.

Setiap pagi, saat Matahari terbit di Long Bawan, rombongan warga berderet memenuhi jalan ke arah Long Midang, wilayah terakhir RI, sekitar 20 kilometer menuju tujuan akhir: Bakalalan.

BAHAGIAKAH "Sherpa Dayak" dengan kehidupan mereka? Sebagian besar warga Krayan menggelengkan kepala. Mereka menyatakan penolakan terhadap budaya memikul beban yang mereka rasakan sebagai keterpaksaan yang disebabkan oleh keterasingan mereka.

"Buyut kemudian kakek kami hidup seperti ini. Ayah ibu pun hidup seperti ini. Kami generasi muda Lundayeh juga mengalami nasib sama," kata Sadrach Acang dengan pedih.

Jhon Gunawan, pemuda Pa Raye lulusan STM di Tarakan, juga menyatakan keluhan yang sama. Mereka seperti kebanyakan pemuda Lundayeh, mengharapkan perubahan kondisi hidup yang lebih baik, dan tidak sengsara, dibandingkan harus meneruskan tradisi memikul barang puluhan kilometer di pegunungan yang masih diliputi hutan rimba.

Philipus Gaing, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kaltim, yang asli Krayan membenarkan keluhan warga Lundayeh di wilayah RI yang selama ini terlunta-lunta.

Warga Lundayeh di Sabah dan Sarawak, menurut Gaing, memiliki nasib yang sangat baik dibandingkan dengan saudaranya di Kaltim.

"Sudah puluhan tahun kami memperjuangkan membuka isolasi melalui pembukaan transportasi darat yang memadai ke Sabah dan Sarawak, tetapi tidak pernah ditanggapi serius. Saat yang sama, saudara kami satu suku di Malaysia hidupnya jauh lebih baik, banyak yang berpendidikan tinggi dan menjadi orang penting di Kuching atau Kota Kinabalu," kata Gaing.

Untunglah usaha ke arah itu sudah dirintis. Pembicaraan resmi Pemerintah RI-Malaysia telah membuat kesepakatan untuk menangani daerah perbatasan kedua negara. Medio 2002, Pemerintah RI-Malaysia dalam pertemuan di Medan menyepakati pembukaan titik perbatasan secara resmi.

Dalam pertemuan itu telah disetujui untuk dibuka pos perbatasan di Long Bawan-Bakalalan.

Demikian pula pintu masuk Malaysia di Long Pasia-Sabah dan Long Banga di Sarawak telah disiapkan Malaysia. Masalahnya, dari sisi Indonesia hingga kini belum terlihat upaya serius membangun daerah perbatasan.




·


·


·


·





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar